Di kelas IX, ada satu bangku yang selalu kosong. Letaknya di pojok dekat jendela.. Tidak ada yang mau duduk di sana, kecuali Dimas.
Dimas lebih sering diam dan mengamati teman-temannya dari jauh. Saat yang lain bercanda dan tertawa, Dimas lebih memilih diam sendiri .
Suatu hari, seorang siswi baru masuk ke kelas. Namanya Sari. Wajahnya terlihat tegang, dan tangannya terus menggenggam tas. Guru menyuruhnya duduk di bangku pojok.
Saat waktu istirahat, Sari masih duduk sendiri. Teman-teman sibuk bermain atau mengobrol. Dimas melihat Sari menunduk, seolah ingin menghilang.
Dimas ragu, tapi akhirnya ia memberanikan diri duduk di bangku pojok itu.
“Kamu nggak apa-apa duduk di sini?” tanya Dimas.
Sari menjawab “Nggak apa-apa.”
Sejak hari itu, mereka sering duduk bersama. Awalnya hanya diam, lalu mulai berbagi cerita. Sari bercerita tentang sekolah lamanya dan rasa takut tidak punya teman. Dimas pun bercerita tentang dirinya yang sering merasa tidak diperhatikan.
Tanpa disadari, mereka saling menguatkan.
Beberapa teman mulai ikut menyapa Sari. Kelas terasa lebih hangat. Dimas belajar bahwa peduli pada orang lain bisa dimulai dari hal kecil: mendengarkan dan menemani.
Bangku pojok itu masih sederhana, tapi kini menjadi tempat di mana tidak ada lagi yang merasa sendirian.
Ini yang dimaksud sosioemosional mempelajari tentang dapat mengenali emosi,empati kepada orang lain

Tinggalkan Balasan