Pukul 02.00 pagi laptop di depanku masih menyala menampilkan kursor yang berkedip-kedip di dokumen kosong. tenggat waktu proposal proyek tinggal 10 jam lagi, tapi otaku seperti jalan macet.
“ayo,Raka. kenapa macet lagi?”gumamku pada diri sendiri. aku mulai panik, dan kepanikan itu membuat ide semakin menjauh.
tiba-tiba sebuah suara di kepala seperti pengamat independen berisik.”tunggu,sadar nggak? kamu sedang panik karena kamu berpikir bahwa kalau proposal ini jelek kamu gagal total pikiran itu yang bikin kaku”.
aku tertegun, ini bukan pertama kalinya. aku menyadari pola kognitif sendiri.”oke,pikiran kamu benar”, batinku merespon suara pengamat itu (inilah momen meta metakognitif-mikirin cara kita mikir pikiran kita).”aku terjebak terjebak di pola berpikir semua atau tidak sama sekali”.
Lalu,si pengamat itu bertanya lagi:”strategi apa yang biasanya berhasil kalau macet seperti ini?”
aku memejamkan mata, mengevaluasi proses berpikir ku sendiri(metakognitif).”biasanya, kalau aku memaksa berpikir linier dari pendahuluan,aku gagal.aku perlu brainstorming acak dulu.aku terlalu perfeksionis di draf pertama”.
aku ambil nafas dalam dalam.”oke,raka.sekarang,sadari bahwa draf pertama tidak harus bagus. fokusnya adalah mengeluarkan semua isi kepala. jangan diedit dulu,”kataku pada diri sendiri, menyesuaikan strategi kognitifku.
aku mulai mengetik.cepat,berantakan,tapi mengalir . setiap kali pikiran “ini jelek” muncul, pengamat di kepalaku langsung menegur:”itu cuma pikiran bukan, fakta.itu nulis”.
satu jam kemudian,draf kasar selesai.”lihat”,kata suara itu lagi,” tadi kaku karena takut salah.sekarang lancar karena strategi nya diubah jadi “bebas dulu,baru rapiin”. strategi ini berhasil.
aku tersenyum kecil, saat menutup laptop untuk tidur 2 jam, aku tidak hanya lega karena proposal selesai, tapi juga sadar bahwa aku baru saja berhasil mengendalikan mesin berpikirku. hidup ternyata lebih mudah ketika kita tahu cara mengelola pikiran kita sendiri.
pesan moral: metakognitif membantu kita menjadi memecah masalah yang lebih baik dengan mengevaluasi dan menyesuaikan cara kita berpikir(perencanaan, pemantauan, dan evaluasi). ketika menyadari pola pikir kaku, kita bisa mengubah strategi untuk mencapai hasil yang lebih efektif.

Tinggalkan Balasan