Langit sore di kota itu berwarna oranye kemerahan, namun suasana hati Syaqila justru kelabu. Ia menatap layar laptopnya dengan putus asa. Proyek yang ia kerjakan selama berbulan-bulan ditolak oleh klien karena dianggap terlalu rumit. Di saat yang sama, ada berita tentang gempa bumi di sebuah desa terpencil muncul di ponselnya. Syaqila menghela napas panjang. “Mengapa usahaku yang rumit seperti ini gagal, sementara alam semesta bisa meruntuhkan segalanya hanya dalam hitungan detik?”, keluhnya dengan frustrasi. Lalu ia berjalan ke arah rak buku, berniat mengambil novel untuk mengalihkan pikiran, namun tangannya justru menyentuh mushaf Al-Quran. Ia membuka mushaf tersebut secara acak. Mata syaqila langsung tertuju pada Surah Al-Hadid ayat 20:
Syaqila terdiam saat membaca tafsir al qur’an tersebut. Proses berpikir dan pemahamannya seolah Ia langsung menyadari bahwa ia terlalu fokus pada dunia proyek, pujian, dan reputasi. Kekecewaannya muncul karena ia memperlakukan dunia sebagai tujuan, bukan alat. Pada saat malam Syaqila tidak bisa tidur. Ia mengambil wudhu dan membuka kembali tafsir Al-Quran. Ia teringat kisah Nabi Yunus AS di dalam perut paus (QS. Yunus: 98), di mana keputusasaan berubah menjadi pengakuan dosa dan kesadaran akan kekuasaan Allah. Syaqila merenung, “Apa aku sedang sombong dengan kepintaranku sendiri?”
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu kelalaian, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyak harta dan anak-anak.”
Keesokan harinya, Syaqila mendatangi kantor kliennya. Ia membawa sketsa baru. Sketsa itu jauh lebih sederhana, mengutamakan keamanan, fungsi, dan bahan alam sangat kontras dengan desain sebelumnya.
“Syaqila, ini luar biasa. Mengapa tidak dari kemarin membuat yang seperti ini?” tanya kliennya kagum kepada Syaqila.
Syaqila tersenyum tenang. “Saya baru sadar, Pak. Desain terbaik bukan yang paling megah, tapi yang paling membawa manfaat dan keamanan bagi penghuninya.”
Saat berjalan keluar kantor, Syaqila merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia mengerti sekarang, bahwa membaca Al-Qur an tidak cukup hanya di bibir, tapi harus sampai ke akal dan hati. Seperti ayat yang Ia baca, Ia tidak lagi berlomba-lomba dalam kemegahan, melainkan mencari keberkahan dalam karyanya. Proyeknya diterima, dan syaqila tidak lagi kelabu. Ia telah menemukan cahaya di balik reruntuhan ego-nya, berkat perenungan Al-Quran.
Kini, syaqila jika membuat proyek harus lebih memikirkan manfaat dan kenyamanannya bagi penghuninya.

Tinggalkan Balasan