KOTAK PIKIR YANG TERHUBUNG

      Suatu hari, Hilya merasa kesusahan untuk mengerjakan dan menyelesaikan beberapa tumpukan –  tumpukan PR yang harus diselesaikannya hari itu juga. Lalu, Hilya bertanya kepada sahabatnya tentang bagaimana cara mengerjakan setumpuk PR tersebut. Kinan sahabatnya memberikan solusi kepada Hilya agar dia mencari jawaban / penyelesaian pada mesin pencari / aplikasi penelusur, agar semua tumpukan PR terjawab hari itu juga.

      Hilya menerima saran yang diberikan oleh Kinan dan mencoba mempraktekkannya. Ajaib, Hilya baru mengetahui bahwa teknologi dapat menjadi alat yang sangat membantu sekaligus berguna dalam memecahkan informasi dan merasa bahwa teknologi telah membantu dalam mengelola informasi dengan baik, serta digital dan teknologi membawa banyak manfaat bagi dirinya. Dan sejak saat itu, jika Hilya mempunyai PR dia akan mencari tahu penyelesaiannya di mesin pencari tanpa mengandalkan pengetahuan sendiri dan buku rangkumannya serta tidak bisa berpikir secara pemahamannya.

      Hari demi hari yang dilewati Hilya, akhirnya selama pengerjaan tugas terselesaikan, Hilya mendapat nilai yang baik dan memuaskan.

      Pada suatu hari, tiba – tiba Hilya mengalami gangguan koneksi internet selama seminggu. Awalnya dia merasa terjebak dan tidak bisa berpikir secara mandiri. Namun, Ketika terpaksa mengandalkan pengetahuannya sendiri dan buku cetak. Dia menyadari bahwa teknologi telah membuat otaknya ‘Bergantung pada sinkronisasi eksternal’. Dia mulai merenungkan bagaimana cara dia menggunakan informasi dari digital. Apakah hanya menyalin atau benar benar memahami. Pada akhirnya, Hilya membuat aturan baru ; Sebelum mencari di internet, dia mencoba memecahkan masalahnya sendiri selama 30 menit dan mencatat proses berpikirnya atas pemahaman yang ia peroleh dari informasi digital. Dan sejak kejadian tersebut, Hilya menyadari bahwa teknologi informasi digital memberikan ketergantungan pada teknologi yang dapat memengaruhi kemampuan penurunan pola berpikir yang mandiri. Dan solusi yang ingin dipraktekkannya adalah dia perlu mengembangkan pola berpikir yang lebih fleksibel, bukan hanya mengandalkan struktur yang teratur seperti dalam dunia digital. Dia juga harus mengenali bagaimana teknologi memengaruhi pola pikir dan kemampuan dasar kita. Kita berisiko menjadi terlalu bergantung atau menerapkan pola pikir digital yang tidak sesuai pada konteks kehidupan nyata. Dan dia juga harus tahu bahwa metakognisi membantu kita mengenali bahwa antara kemampuan kognitif yang berjasa dan pengaruh yang tidak berguna pada pola pikir kita.

KESIMPULAN:


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *