2024 bukanlah tahun yang mudah bagiku. Namaku Fania, aku berusia 14 tahun dan kini menduduki bangku kelas delapan. Banyak sekali pengalaman ditahun ini, dan dari pengalaman itu aku banyak belajar. Belajar cara bersyukur, belajar cara berfikir, belajar cara memanfaatkan teknologi, belajar bagaimana cara tidak gampang menyepelekan sesuatu dan masih banyak lagi pengalaman yang lain.
Ketika semester satu, nilaiku jauh dari kata bagus. Banyak mendapat nilai di bawah KKM, bahkan aku hanya mendapat satu nilai sempurna.
Sepulang sekolah usai pembagian raport, aku menghampiri ibuku yang sedang memasak di dapur. Ibu bertanya padaku “Dapat peringkat berapa kamu? ” tanyanya. Aku hanya diam dan menunduk menahan malu, tangis dan sesal. Setelah melihatku diam, ibu mengulurkan tangannya seolah-olah meminta raport dariku. Aku memberikannya. Seusai melihat isi dari benda itu, ada guratan kecewa dari wajah ibuku.
“astaghfirullahaladzim… ini gimana Fania? nilai kamu jadi gini. Makanya jangan Hp aja yang kamu perhatikan. Ibu malu ya!” sentaknya.
“ M-maaf bu…” hanya itu yang dapat ku ucapkan.
Aku termangu di dalam kamar, dan akhirnya aku sadar semua hal yang sedang aku lakukan berapa bulan lalu.

====================
“Huhh.. tugas lagi…tugas lagiii. Capek tau gak ihh!”
“Gak usah dikerjain deh, Alesan aja kalo ditanya bu Tiwi. Mending ngelive aja lebih seru”.
——————————
Ketika aku sibuk Scroll Tiktok. Tiba-tiba ibu memanggilku.
“Fania…. Sini nakk, bantu ibu” panggilnya.
Aku sangat malas menghampiri ibu dan akhirnya aku mengabaikan panggilan itu dan tetap melanjutkan aktivitas pribadi ku. Beberapa saat kemudian, aku menemukan sebuah aplikasi yang nampaknya menarik dan cocok untuk aku.Tanpa pikir panjang, aku klik download dan tunggu beberapa menit.
Aku terbawa suasana sehingga tidak sadar melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kulakukan. Check out barang yang tidak diperlukan ku lakukan berulang di aplikasi yang marak disebut “Shopee”. Barang mulai berdatangan dan pada akhirnya ibulah yang membayarnya.
Suatu hari di sekolah, aku secara nekat membawa gadget dan mencoba berpenampilan yang berbeda. Gelang rantai, rambut merah, Makeup Cetar yang melihatnya pasti menatap heran, bahkan ada juga yang terpesona.

“ Nia, kok kamu berubah sih akhir-akhir ini, pasti gara-gara Tiktok itu ya?” tanya Bana.
“Apaan sih kan aku cuma mau ikut trend, wleekkkk” ejekku.
Fania sebenarnya anak yang ramah, ceria, dan banyak teman tanpa membeda-bedakannya.Fania suka sekolah, apalagi punya wali kelas yang ramah dan penyabar.
Bel untuk berbaris bunyi, seluruh Siswa-siswi berkumpul di lapangan sekolah untuk mengikuti upacara bendera pagi ini. Singkat cerita, Ibu Kepala Sekolah memberikan pengarahan tentang bagaimana sebaiknya menggunakan gadget dengan bijak. Ibu kepala sekolah menyinggung permasalahan ini, karena pada minggu yang lalu salah seorang siswi dari kelas delapan ketahuan bermain Facebook dan berbuat hal yang tidak baik.
Siswi tersebut menulis kalimat yang membully, mengancam, dan menyindir sehingga bisa saja menurunkan mental orang lain. Siswi tersebut adalah Fania.
Fania malu, tetapi ia tetap melanjutkan kebiasaan buruknya tanpa aturan.Terkadang sampai 12 jam/hari. Waktu belajarnya mulai anjlok, badannya kurus dan semakin terbawa arus digital. Ibunya berusaha menegurnya, tapi sifat keras kepalanya tidak bisa terkalahkan. Resah, kecewa itulah yang ibunya rasakan.
Akhirnya tiba waktu ujian akhir. Fania merasa tidak mengerti semua jawaban-jawaban di soal ini. Ia merasa banyak awan hitam yang menutupi otaknya.
Sepekan setelahnya, hari pengumuman hasil raport telah tiba. Fania tidak sabar menunggunya. beberapa saat kemudian. Kecewa yang kurasakan sekarang. Nilai anjlok, dibawah KKM, terbawa pergaulan yang tidak baik, dll.
===============
Aku meneteskan bulir-bulir bening selama 2 jam, yang menyebabkan mataku sembab. Dan pada akhirnya aku sadar, bahwa semua yang aku lakukan beberapa bulan ini salah. Aku berfikir,aku harus berubah dan mencoba untuk membantu ibu dengan gadget ini. Karena, seiring berkembangnya zaman, teknologi dapat digunakan untuk segala hal sebagai perkembangan ekonomi.
Aku mulai me-reset gadget yang aku gunakan dan mulai berkarya melalui tulisan-tulisan ceritaku. Dengan disambi belajar bersama Ruang Guru untuk berkembang lebih giat. Dari tulisan-tulisan ini, aku berfikir

“Apakah semua orang akan menyukai ini? aku harus mengubahnya menjadi lebih menarik”.
“Mmm.. kayaknya kata ini kurang cocok deh. Kayak hambar gitu. Mereka suka ga ya sama cerita ini?” Keluhku di sepanjang malam.
Clingg!
Notifikasi muncul di layar komputerku.
“Selamat karya kamu dibaca oleh 40.000 pembaca di penjuru dunia!!”
“Alhamdulillah.. Ya Allah..” Haruku.
Akhirnya aku sadar bahwa
Semua usaha, semua keluhan, semua keraguan itu bisa dikontrol sesuai dari hati kita, asal kita berusaha. Yang pasti dengan kunci utama yaitu kesabaran dan keimanan yang kuat.
Aku harus memperbaiki tulisan itu
Berubahlah, tapi perlahan. Karena, sejatinya arah lebih baik daripada kecepatan.
Oleh Hidayatun Nurul Khusna, kelas IX SMPI AL-ASHFIYA
*NB: Gambar diatas hanya sebatas ilustrasi semata

Tinggalkan Balasan