Di Balik Layar Zoom

Pukul tujuh pagi, alarm ponselku berbunyi.
Bukan untuk bersiap ke sekolah, melainkan untuk menyalakan laptop.

Pandemi COVID-19 mengubah segalanya. Sekolah yang dulu penuh suara tawa kini pindah ke layar. Bangun tidur, mandi seperlunya, lalu duduk di depan kamera—itulah rutinitasku. Seragam hanya bagian atas, sementara celana rumah tak pernah terlihat.

Saat aplikasi Zoom terbuka, satu per satu wajah muncul. Ada yang menyalakan kamera, ada yang memilih diam dengan foto profil. Aku termasuk yang sering mematikan kamera. Bukan karena malas, tapi karena lelah berpura-pura baik-baik saja.

“Selamat pagi, anak-anak,” suara guru terdengar, sedikit terputus-putus.

Aku menjawab dalam hati.
Tanganku sibuk mematikan mikrofon, takut suara rumah ikut terdengar—suara ibu yang batuk, berita COVID-19 di televisi, dan kecemasan yang tak pernah benar-benar hilang.

Awalnya aku senang belajar dari rumah. Tidak perlu berangkat pagi-pagi, tidak perlu macet. Tapi lama-kelamaan, kesepian datang pelan-pelan. Teman-teman hanya kotak kecil di layar. Tak ada cerita di bangku belakang, tak ada tawa di kantin.

Teknologi membuat kami tetap belajar, tapi juga membuat jarak terasa nyata.

Suatu hari, guru meminta kami menyalakan kamera.

Jantungku berdegup cepat.
Aku melihat wajahku sendiri di layar—mata lelah, senyum yang dipaksakan.

“Bagaimana perasaan kalian selama belajar daring?” tanya beliau.

Hening.
Tak ada yang menjawab.

Aku ingin bicara, tapi ragu. Apakah suaraku akan terdengar? Apakah ada yang peduli?

Akhirnya aku mengetik di kolom chat:
“Saya kangen sekolah, Bu.”

Tak lama, pesan lain bermunculan.
“Saya juga.”
“Capek di rumah terus.”
“Saya susah fokus.”

Untuk pertama kalinya, aku merasa tidak sendirian.

Guru tersenyum dari balik layar. “Terima kasih sudah jujur. Walau kita terpisah, perasaan kita sama.”

Hari itu, Zoom bukan sekadar aplikasi. Ia menjadi ruang aman untuk berbagi.

Sejak saat itu, aku mulai menyalakan kamera. Bukan karena harus, tapi karena ingin. Aku belajar bahwa teknologi memang dingin, tapi manusialah yang memberi makna di dalamnya.

COVID-19 memaksaku masuk sekolah lewat Zoom.
Teknologi menggantikan ruang kelas.
Namun empati, kejujuran, dan kebersamaan—itulah yang membuatku tetap merasa menjadi murid, menjadi teman, dan tetap manusia.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *